Wednesday, April 29, 2009

Belasan Kilometer Jalan Kaki

Meski belasan kilometer ditempuh, bukan berarti belasan rezeki didapatkan setiap hari. Toh, Ujang (22), sudah bertekad meninggalkan kampungnya di Garut, Jawa Barat, delapan tahun silam untuk merantau ke Tanjungpinang. Berapa pun rezeki diberikan Tuhan, ia setia menyusuri gang-gang kecil, trotoar jalan raya sambil berteriak: sol sepatu!

Bagi lulusan SMP ini, hidup itu sederhana. "Saya bisa makan setiap hari sudah bersyukur. Biasanya kalau saya syukuri, akhir bulan ada sisa sedikit buat orangtua di kampung," kata bungsu dari tiga bersaudara yang dua kakak iparnya juga menekuni sol sepatu, beberapa hari lalu di Ganet, Batu 12, Tanjungpinang.

Saat itu Ujang tengah menjahit dua sandal milik warga. Sebuah kotak kayu kecil, berbentuk kubus dengan ukuran tak lebih dari 20 sentimeter menjadi tempat duduknya. Sebuah kotak kayu yang sama terletak di depannya. Ada bagian yang terbuka, tampak alat pengait, pisau, lem karet, dan gulungan tali berserakan di dalamnya. Bila tengah dipikul, bagian atas kotak biasanya sebagai tempat menaruh lembaran karet bahan dasar alas sepatu atau sandal.

Rezeki tukang sol sepatu tak ubahnya air lautan, pasang dan surut. Dalam kondisi surut, yang dicari Ujang bukan lagi sisa uang untuk tabungan, "Hanya mencari satu atau dua orang yang menjahit sepatu atau sandalnya. Biar lepas untuk biaya makan hari itu. Masalahnya kan saya tidak masak sendiri, saya jajan di warung. Sambil istirahat setelah keliling jalan kaki."

Biasa bagi Ujang menempuh perjalanan dari Ganet ke pasar di Jalan Merdeka. Meski lewat jalan-jalan kecil memintas, masih jauh juga bagi mereka yang tak terbiasa jalan kaki. Dengan niat tulus mencari uang halal, dijalaninya dengan sabar. Sebab tidak mungkin setiap hari melewati jalan yang sama, karena kemungkinan mendapatkan pelanggan kecil. Tidak setiap hari sepatu yang dijahit sebelumnya kembali direparasi.

Untungnya aturan tukang sol sepatu tak seperti metrotrans. Di Batam misalnya, kalau ada metrotrans rute A menaikkan penumpang di rute B dipastikan antarsupir bakal adu mulut. Enaknya tukang sol sepatu, semua jalan tak ada yang berani mengklaim wilayah perorangan. Pemandangan biasa Ujang bertemu dengan rekan-rekan seprofesinya saat tengah sama-sama mencari pelanggan di sebuah perumahan atau lokasi yang sama.

Rezeki adalah berkah. Itu juga yang dipercaya Asep (20) dan Burhan (21), dua tukang sol sepatu yang ditemui usai menjalankan sholat Ashar di Masjid Al Uswah, Batu 10. Menyadari celana yang dipakai untuk jualan bisa saja terkena najis, keduanya menyiapkan sarung saat sholat. Mereka harus bergantian.

Sama seperti Ujang, Asep dan Burhan juga berasal dari Garut. Menurut pengakuan keduanya, kebanyakan tukang sol sepatu berasal dari sana. "Di mana-mana, ada yang di Papua, Kalimantan, Sulawesi. Pokoknya tersebar di semua wilayah Indonesia," kata Asep. Di Tanjungpinang saja ada kira-kira 70-an tukang sol sepatu.

Pekerjaan ini bisa menjadi bagian dari kehidupan pelakunya. Burhan mencontohkan, masih ada warga Garut berusia 60 tahun yang setia menekuninya. Motivasi datangnya bisa dari mana saja, termasuk kesuksesan tetangga mereka di kampung halamannya. Ada yang berhasil membangun rumah bagus, membeli mobil keluaran terbaru dan mengembangkan usaha lain dari modal menjadi tukang sol sepatu.

Sepasang sandal yang disol dikenai biaya minimal Rp10 ribu. Kecil untuk ukuran dunia bisnis. Ujang, Asep dan Burhan pun tahu itu. Tetapi memang itulah profesi mereka yang diawali dengan latihan menjahit berhari-hari. Hal biasa saat berguru daging jari tangan tertusuk mata pengait atau tersayat pisau. Kalau nasib mereka baik, bisa sukses dari usaha ini, tak ada yang tahu. Jika saat ini setiap hari harus mengukur jalan, mereka ihlas sambil tetap berdoa agar selalu ada rezeki. Mereka percaya, tukang sol sepatu tetap dibutuhkan, bukan hanya warga kelas menengah ke bawah. "Saya sering kok dipanggil menjahit sepatu milik orang kaya. Masuk rumah bagus, ada mobilnya di garasi," ujar Burhan.

Sol sepatu... sol sepatu. Pasti Anda akrab dengan suara ini.

No comments:

Post a Comment