sekelompok massa mendatangi kejari tanjungpinang, selasa kemarin. intinya, sebuah organisasi keagamaan yang ada di daerah ini dinyatakan aliran sesat. aku kembali berpikir, siapa yang tak kenal amerika? biang keroknya, keraknya, embahnya negara anti rasialis, tetapi yang terjadi sekarang mereka justru memiliki presiden berkulit hitam.
sedangkan kita, begitu mudahnya menudingkan jari ke arah orang lain lalu mengatakan dia berbeda dengan kita. urusan agama, sampai kapan pun akan begitu mudah menyulut reaksi. kalau ada pengarang buku yang menulis aliran a, b, atau c adalah sesat, akan sangat mudah menuai kritikan maupun dukungan. wong memang begitulah endonesa (jujur saja, kadang kita susah sekali mengatakan indonesia, bukan?).
jauh sebelum negara ini merdeka, nenek moyang kita sudah menganut kepercayaan. ada yang dikatakan animisme, dinamisme dan sebagainya. toh mereka dulu rukun. saat zaman terus berkembang, merdeka sudah kita raih, entah berapa banyak gesekan terjadi yang bersumber dari satu hal: apa yang dilakukan orang lain tak sama dengan yang kita lakukan. bukankah tuhan maha adil, kalau sudah percaya hal itu tentu sebagai manusia meyakini hakim paling hebat, yang tak mempan disogok segepok duit adalah tuhan semata.
sebab, aksi dan reaksi atas masalah yang menyangkut agama dan kepercayaan di negeri ini biasanya tak begitu saja padam. kalau mereka yang berada di pucuk pimpinannya punya dasar kuat, pasti meykinkan jawabannya saat debat, tak selalu demikian dengan warga yang hanya tahu sedikit lalu ikut bergerak.
aku sendiri selalu memilih untuk tidak terjebak dalam pemikiran: aku paling benar, paling baik, bahkan paling salah. karena aku manusia biasa. aku ingat pesan guru ngajiku waktu kecil, jadilah manusia yang bisa merasa. bisa merasa diri ini banyak kekurangan, bisa merasa manusia memang tak pernah puas akan apa yang telah diperolehnya, bisa merasa banyak orang lain yang lebih hebat, bisa merasa dunia adalah lembaran terjal yang harus dilalui dengan hati-hati agar tak terperosok dalam prasangka atau iri hati, bisa merasa bagaimana penderitaan orang lain akibat ulah kita, bisa merasa tak selalu apa yang kita anggap benar adalah benar di mata orang lain apalagi tuhan.
tidak terkurung dalam idiom merasa bisa. karena akan melahirkan pemikiran merasa bisa mempecundangi orang lain, merasa bisa lebih baik hanya dengan sekali berbuat, merasa bisa menjadi kawan baik, merasa bisa membantu orang lain dengan perbuatan yang didasarkan atas pemikiran pribadi atau kelompok, merasa bisa menjadi orang hebat dan merasa bisa yang lain...
tentu saja, kedatangan massa ke kejari memiliki landasan. dan akan semakin panjang daftar gesekan antarmanusia jika ada kelompok lain yang menandinginya. indonesia (benar ejaannya?) kan begitu. pihak a maju, pihak b tak terima. suatu waktu gantian maju. kalau ketemu di suatu waktu, bentrok!
Wednesday, April 29, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment