ia menyebutkan namanya, berasal dari sumatra utara. meski kedua matanya tak mampu melihat, lelaki yang kini tinggal beserta istri dan anak balitanya di bawah simpang lampu merah barek motor ini merantau ke negeri orang untuk kehidupan dan penghidupan yang lebih baik. sudah tiga tahun ia jalani kehidupan di kijang sebagai pemijat tuna netra.tentu saja kepergiannya ke kijang bukan asal-asalan. banyak kawan-kawan senasibnya yang kini sukses sebagai pengusaha panti pijat tuna netra. apalagi, berdasarkan pengalamannya di kampung halamannya, pemerintah setempat aktif melakukan pembinaan. kepandaiannya memijat orang bukan turun dari langit. atau warisan buyutnya. ia belejar di sekolah khusus pemijat tuna netra di bandung. ongkosnya? ditanggung pemerintah setempat.
begitu lulus, diarahkan untuk membuka tempat usaha. modal disiapkan, meski setiap waktu dipantau secara cermat oleh pemerintah daerah. bayangan itulah yang ada dalam benak lelaki tadi. nyatanya begitu menginjakkan kakinya ke kijang ia harus bekerja sendiri. ia percaya tuhan akan membantunya. setiap hari, ada saja warga yang datang ke rumah sewanya yang tak begitu besar.
rumah itu disewanya rp 300 ribu sebulan. bukan beban yang berat baginya, yang biasa dibayar rp 30 ribu sekali pijat. sesepi-sepinya tamu, ia mengaku masihlah ada satu orang setiap hari. toh pemijat tuna netra ini tak buta harapan. ia tetap manusia, ingin memperbaiki nasib. apalagi ada istri dan anak yang fisiknya normal. ia ingin mendapatkan bantuan modal dari pemerintah setempat. bukan minta, pinjam.
hanya satu dalam benaknya, membuka panti pijat tuna netra dengan lokasi yang lebih pantas. tidak seperti sekarang, ruang praktiknya ya kamar yang dipakainya untuk tidur. "kapan ya ada yang bersedia meminjamkan modal untuk orang seperti saya?" tanyanya.

No comments:
Post a Comment