cerita orang-orang, nyaman naik kapal roro dari punggur - uban atau sebaliknya. pas mau balik ke batam, saya berangkat pagi-pagi dari tanjungpinang. kebetulan ada kawan yang ngajak. kapal berangkat pukul 08.00 wib. rupanya sampai pelabuhan kepagian.
yang harus dilakukan, membayar biaya perjalanan yang sudah ditetapkan. masih ada waktu, kami duduk-duduk di pelataran luas di depan jembatan masuk ke kapal. ada setengah jam, ada yang mendesak untuk dikeluarkan. saya tanya teman yang ngajak tadi, disuruh pergi ke balik bangunan yang tak tahu itu dulunya untuk apa karena memang tak ada papan namanya. cepat-cepat, setengah berlari saya menuju petugas pencatat tiket yang tadi kami lewati. waduh, wc-nya memang alami.
akhirnya saya balik lagi. saya lihat kawan yang tadi menyarankan saya ke balik bangunan di sampingnya tersenyum. apa boleh buat, saya pun mengikuti saran kawan. celingak-celinguk, pelan-pelan kedua tangan saya turunkan. agak takut-takut juga memulainya. setelah yakin aman, ya sudah akhirnya terlaksana juga. baunya alamak, mungkin sudah berliter-liter air kencing tertumpah di tempat saya berdiri.
usai itu, saya kembali menjumpai kawan. yang ada dalam benak saya, untung saya lelaki. kalau seorang calon penumpang roro kebelet separti yang saya alami, kemana dia berlari. kalau lelaki sih simpel saja, sambil berdiri juga bisa. nah, kalau kaum hawa? pasti ribet dan banyak upaya tambahan agar acara buang air kecilnya aman, nyaman dan terkendali. menghadapi kenyataan ini, rupanya bukan pengelola pelabuhan yang peduli, melainkan calon penumpangnya sendiri.
begini, jangan keburu menyangka mereka yang buru-buru menaiki kapal roro hanya ingin mendapatkan tempat duduk favorit. ternyata, dari keterangan beberapa penumpang, sesaat setelah kapal meninggalkan pelabuhan tanjunguban, mereka ingin buang air kecil yang bisa dengan mudah ditemukan di atas kapal roro.
Saturday, March 28, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment