Saturday, March 21, 2009

kuantitas perlu juga

agak kesal juga mencari-cari markas panwaslu kabupaten bintan tak juga ketemu. sudah lebih dari lima warga kutanya, jawabnya selalu menunjuk bangunan di seberang lampu merah barek motor. aku bilang itu kantor kpu, ada yang mengangguk-angguk lalu bilang ooo. ada yang sok ngeyel dan mengatakan kantor panwaslu juga di sana. padahal, aku baru saja dari kantor kpu. apakah memang kpu lebih populer dibandingkan panwaslu? entahlah.

putar-putar, ah, akhirnya ketemu juga ruko tiga lantai dengan papan nama panwaslu. pas hari jumat, sepi. lantai satu hanya ada dua motor terparkir di depan ruko, satunya di dalam. ada tas tergeletak di kursi, tetapi pemiliknya tak ada. di lantai dua, ada seorang pegawai. setelah dialog sedikit, dari mana, mau ketemu siapa dan sebegainya, aku disuruh ke lantai tiga.

di sini berjumpa ketua panwaslu zulfan dan kepala divisi monitoring dede. waktu sebenarnya tak banyak karena mendekati salat jumat, tetapi banyak yang aku dapatkan dari seorang zulfan, juga dede. rupanya kantor panwaslu sudah pindah tiga kali. dengan jumlah personil yang terbatas, mereka harus mengkover seluruh wilayah kabupaten bintan yang luasnya hmmm (silakan buka peta kabupaten bintan). ada salah satu kecematan namanya tambelan yang hanya bisa dijangkau lewat kapal yang berlayar empat atau lima hari sekali.

kalau zulfan dan kawan-kawannya harus ke sana, berarti 10 hari habis di perjalanan dan masa menunggu keberangkatan kapal. satu-satunya cara ialah memaksimalkan tugas para petugas lapangan yang ada di kecamatan dan kelurahan atau desa. tak cuma ini masalahnya, ternyata di kabupaten belum ada perda yang mengatur titik-titik jalan mana yang boleh dan tidak dipancangi alat peraga pemilu. nah, ketika panwaslu turun untuk melakukan peneguran, parpol bersangkutan bisa-bisa berang. yang dipakai hanya aturan umum tak boleh memasang atribut parpol di tempat ibadah, fasilitas umum, sekolah dan itu-itu lagi.

sebenarnya juga, kata zulfan, institusinya hanyalah pengawas. untuk turun seharusnya menjadi tugas kpu yang bisa saja mengajak satpol pp untuk melakukan penertiban atribut. ah sudahlah, aku tak mau menyeret-nyeretkan diri larut dalam persoalan tersebut. yang aku pikir cuma bagaimana orang-orang panwaslu mengawasi wilayah yang begitu luas. kalau di jawa, hanya dengan sarana bernama kendaraan bermotor semua wilayah jangkauan nyaris terkover semua. meski harus naik turun bukit, jalan becek tetapi tak butuh waktu berhari-hari.

No comments:

Post a Comment