Monday, March 23, 2009

salam tempel

memasuki pintu gerbang kawasan wisata lagoi, kabupaten bintan, beberapa minggu lalu, kawan saya merogoh saku celananya. diambilnya rp20 ribu, kaca depan kanan dibukanya. seorang satpam berseragam menghormat sambil menyapa hendak kemana. sambil tersenyum, kawan menjulurkan tangannya dan rupiah itu pun berpindah.

ketika saya tanyakan, mengapa harus memberinya duit, teman saya yang bermata sipit menjawab daripada dipersulit urusannya. memang, kawan saya mengantarkan pesanan dari seorang petinggi hotel yang ada di areal wisata internasional ini. kalau dijelaskan oleh kawan saya siapa yang pesan, menurut saya akan diperbolehkan juga masuk. kecuali pesanannya bahan-bahan berbahaya. demikian juga dengan satpam yang menghadang, begitu mendapatkan salam tempel mobil yang kami tumpangi tak diperiksa. padahal siapa tahu saya menyembunyikan bom di bawah jok mobil, he he...

sepulangnya, saya tetap menyindir teman mengapa harus membiasakan diri dengan salam tempel tadi. kalau urusannya benar kan tak perlu pakai kebiasaan tersebut. bila dibudidayakan, satpam juga bisa menaruh harapan setiap kali ada tamu masuk. banyak sekali pemilik kepentingan di kawasan ini, termasuk pemasok barang-barang kebutuhan. mereka pastilah tak harus pakai pengawalan polisi, kadang juga bercelana pendek, berkaos sederhana. kalau sehari saja ada lima orang seperti teman saya, berapa duit di tangan satpam?

atau karena kawan saya bermata sipit? ia masih merasa menjadi warga nedara nomor sekian? gimana to, kan sekarang sudah tak ada lagi kelas dan kasta seperti itu. kalau obyeknya saja tetap merasa berbeda ya bagaimana orang lain mau menganggapnya sama. sampai sekarang, kalau teman saya masuk ke kawasan ini pasti saya sindir, sekadar mengingatkan untuk tidak membiasakan diri dengan salam tempel.

1 comment: