saat saya menulis ini, tengah berlangsung pekan olahraga dan seni nasional yang di kabupaten bintan. pesta seperti ini menjadi ajang kemampuan serta prestise sekolah-sekolah yang ada. begitu banyak lomba olahraga dan kesenian dipertandingkan.
yang punya gawe dinas pendidikan kabupaten bintan. kalau sudah kepala dinas yang mengirimkan surat ke sekolah-sekolah untuk mengirimkan atlet atau senimannya untuk meramaikan acara ini, sudah pasti guru-guru sibuk mencari muridnya yang berprestasi atau layak untuk dijual di depan umum. masalahnya nih, surat pemberitahuan dari dinas pendidikan telat diterima kontingen dari bintan utara (tanjung uban).
tiga guru dari sekolah dan jenjang yang berbeda di kecamatan ujung ini bercerita kepada saya di bawah pohon nan rindang di tepi lapangan antam, kijang saat berlangsung lomba drumband. surat dari dinas datang pada tanggal 20 mei 2009, ya kita semua tahu orang kita kan paling suka menandai hari nasional dengan tanggal merah.
artinya libuuuuuur lagiiiiii...
ya jelas, surat datang pas hari libur. begitu keberangkatan kontingen tanggal 21 mei, lha kok ada surat pemberitahuan dari dinas soal lomba seni. kalau aladin mungkin bisa dengan bim salabim atau bra kadabra. merasa tak bisa lagi dikirimkan dengan waktu yang sungguh mepet dan bikin mumet itu, akhirnya kontingen bintan utara tak mengirimkan peserta lomba seni.
saya hanya bertanya kepada diri sendiri. kalau memang kegiatan ini diselenggarakan tanggal sekian atau sekian, mengapa suratnya bisa sampai telat ya? pasti anda tertawa kalau dijawab suratnya diantar pakai becak.
Read More..
Friday, May 22, 2009
Friday, May 1, 2009
untung saya bawa ke batam
minggu sore lalu, aku ditertawakan istri teman karena melihatku balik ke batam membawa tas besar. seperti pendaki gunung saja, katanya. aku tersenyum saja, tak ada lagi yang ingin kujawab. ya memang isinya pakaian kotorku selama seminggu. susahnya jadi orang malas mencuci sendiri.
di batam tinggal serahkan ke istri, beres. kamis siang balik lagi ke tanjungpinang dengan pakaian yang sudah rapi diseterika. begitu pulang ke rumah di hang tuah, lalu bertemu istri temanku, giliran aku yang ngakak melihat tumpukan pakaiannya, pakaian suami dan anaknya numpuk di sudut ruangan. rupanya air mati hampir seminggu. busyet.
kemarin, sebelum sholat jumat aku harus datang lebih awal. bukan takut tak mendapatkan shaft depan, melainkan mengincar kamar mandi masjid yang kosong. sampai di masjid komplek rumah, alhamdulillah ada satu kosong. sementara tiga lainnya tertutup, terdengar bunyi air disiramkan ke tubuh. ha ha ha, warga berebut mandi di masjid rupanya.
untung pakaian kotor aku bawa ke batam. kalau tidak, betapa susahnya dekat dengan orang lain. masa celana dalam harus pakai side a dan side b, seperti kaset lagu-lagu itu. atau kaos dalam dipakai lagi karena tak ada pilihan. pasti seng.... baunya. aku belum survei, mungkin toko-toko parfum di tanjungpinang laku keras saat seperti ini. nggak mandi, semprot perfum. wuah.... bikin mabuk lalat.
kalau sesekali menjadi orang kaya tak apalah. apa pasal? dua hari tak mandi, hari ketiga tak akan kuat menahan gerahnya kulit tubuh. mau tak mau panggil tukang air galon isi ulang, beli beberapa galon untuk mandi dan keperluan buang air kecil dan besar. doanya sih jangan sering-sering sakit perut, bisa-bisa kehabisan air galon he he. Read More..
di batam tinggal serahkan ke istri, beres. kamis siang balik lagi ke tanjungpinang dengan pakaian yang sudah rapi diseterika. begitu pulang ke rumah di hang tuah, lalu bertemu istri temanku, giliran aku yang ngakak melihat tumpukan pakaiannya, pakaian suami dan anaknya numpuk di sudut ruangan. rupanya air mati hampir seminggu. busyet.
kemarin, sebelum sholat jumat aku harus datang lebih awal. bukan takut tak mendapatkan shaft depan, melainkan mengincar kamar mandi masjid yang kosong. sampai di masjid komplek rumah, alhamdulillah ada satu kosong. sementara tiga lainnya tertutup, terdengar bunyi air disiramkan ke tubuh. ha ha ha, warga berebut mandi di masjid rupanya.
untung pakaian kotor aku bawa ke batam. kalau tidak, betapa susahnya dekat dengan orang lain. masa celana dalam harus pakai side a dan side b, seperti kaset lagu-lagu itu. atau kaos dalam dipakai lagi karena tak ada pilihan. pasti seng.... baunya. aku belum survei, mungkin toko-toko parfum di tanjungpinang laku keras saat seperti ini. nggak mandi, semprot perfum. wuah.... bikin mabuk lalat.
kalau sesekali menjadi orang kaya tak apalah. apa pasal? dua hari tak mandi, hari ketiga tak akan kuat menahan gerahnya kulit tubuh. mau tak mau panggil tukang air galon isi ulang, beli beberapa galon untuk mandi dan keperluan buang air kecil dan besar. doanya sih jangan sering-sering sakit perut, bisa-bisa kehabisan air galon he he. Read More..
Wednesday, April 29, 2009
Belasan Kilometer Jalan Kaki
Meski belasan kilometer ditempuh, bukan berarti belasan rezeki didapatkan setiap hari. Toh, Ujang (22), sudah bertekad meninggalkan kampungnya di Garut, Jawa Barat, delapan tahun silam untuk merantau ke Tanjungpinang. Berapa pun rezeki diberikan Tuhan, ia setia menyusuri gang-gang kecil, trotoar jalan raya sambil berteriak: sol sepatu!Bagi lulusan SMP ini, hidup itu sederhana. "Saya bisa makan setiap hari sudah bersyukur. Biasanya kalau saya syukuri, akhir bulan ada sisa sedikit buat orangtua di kampung," kata bungsu dari tiga bersaudara yang dua kakak iparnya juga menekuni sol sepatu, beberapa hari lalu di Ganet, Batu 12, Tanjungpinang.
Saat itu Ujang tengah menjahit dua sandal milik warga. Sebuah kotak kayu kecil, berbentuk kubus dengan ukuran tak lebih dari 20 sentimeter menjadi tempat duduknya. Sebuah kotak kayu yang sama terletak di depannya. Ada bagian yang terbuka, tampak alat pengait, pisau, lem karet, dan gulungan tali berserakan di dalamnya. Bila tengah dipikul, bagian atas kotak biasanya sebagai tempat menaruh lembaran karet bahan dasar alas sepatu atau sandal.
Rezeki tukang sol sepatu tak ubahnya air lautan, pasang dan surut. Dalam kondisi surut, yang dicari Ujang bukan lagi sisa uang untuk tabungan, "Hanya mencari satu atau dua orang yang menjahit sepatu atau sandalnya. Biar lepas untuk biaya makan hari itu. Masalahnya kan saya tidak masak sendiri, saya jajan di warung. Sambil istirahat setelah keliling jalan kaki."
Biasa bagi Ujang menempuh perjalanan dari Ganet ke pasar di Jalan Merdeka. Meski lewat jalan-jalan kecil memintas, masih jauh juga bagi mereka yang tak terbiasa jalan kaki. Dengan niat tulus mencari uang halal, dijalaninya dengan sabar. Sebab tidak mungkin setiap hari melewati jalan yang sama, karena kemungkinan mendapatkan pelanggan kecil. Tidak setiap hari sepatu yang dijahit sebelumnya kembali direparasi.
Untungnya aturan tukang sol sepatu tak seperti metrotrans. Di Batam misalnya, kalau ada metrotrans rute A menaikkan penumpang di rute B dipastikan antarsupir bakal adu mulut. Enaknya tukang sol sepatu, semua jalan tak ada yang berani mengklaim wilayah perorangan. Pemandangan biasa Ujang bertemu dengan rekan-rekan seprofesinya saat tengah sama-sama mencari pelanggan di sebuah perumahan atau lokasi yang sama.
Rezeki adalah berkah. Itu juga yang dipercaya Asep (20) dan Burhan (21), dua tukang sol sepatu yang ditemui usai menjalankan sholat Ashar di Masjid Al Uswah, Batu 10. Menyadari celana yang dipakai untuk jualan bisa saja terkena najis, keduanya menyiapkan sarung saat sholat. Mereka harus bergantian.
Sama seperti Ujang, Asep dan Burhan juga berasal dari Garut. Menurut pengakuan keduanya, kebanyakan tukang sol sepatu berasal dari sana. "Di mana-mana, ada yang di Papua, Kalimantan, Sulawesi. Pokoknya tersebar di semua wilayah Indonesia," kata Asep. Di Tanjungpinang saja ada kira-kira 70-an tukang sol sepatu.
Pekerjaan ini bisa menjadi bagian dari kehidupan pelakunya. Burhan mencontohkan, masih ada warga Garut berusia 60 tahun yang setia menekuninya. Motivasi datangnya bisa dari mana saja, termasuk kesuksesan tetangga mereka di kampung halamannya. Ada yang berhasil membangun rumah bagus, membeli mobil keluaran terbaru dan mengembangkan usaha lain dari modal menjadi tukang sol sepatu.
Sepasang sandal yang disol dikenai biaya minimal Rp10 ribu. Kecil untuk ukuran dunia bisnis. Ujang, Asep dan Burhan pun tahu itu. Tetapi memang itulah profesi mereka yang diawali dengan latihan menjahit berhari-hari. Hal biasa saat berguru daging jari tangan tertusuk mata pengait atau tersayat pisau. Kalau nasib mereka baik, bisa sukses dari usaha ini, tak ada yang tahu. Jika saat ini setiap hari harus mengukur jalan, mereka ihlas sambil tetap berdoa agar selalu ada rezeki. Mereka percaya, tukang sol sepatu tetap dibutuhkan, bukan hanya warga kelas menengah ke bawah. "Saya sering kok dipanggil menjahit sepatu milik orang kaya. Masuk rumah bagus, ada mobilnya di garasi," ujar Burhan.
Sol sepatu... sol sepatu. Pasti Anda akrab dengan suara ini. Read More..
vonis untuk saudara
sekelompok massa mendatangi kejari tanjungpinang, selasa kemarin. intinya, sebuah organisasi keagamaan yang ada di daerah ini dinyatakan aliran sesat. aku kembali berpikir, siapa yang tak kenal amerika? biang keroknya, keraknya, embahnya negara anti rasialis, tetapi yang terjadi sekarang mereka justru memiliki presiden berkulit hitam.
sedangkan kita, begitu mudahnya menudingkan jari ke arah orang lain lalu mengatakan dia berbeda dengan kita. urusan agama, sampai kapan pun akan begitu mudah menyulut reaksi. kalau ada pengarang buku yang menulis aliran a, b, atau c adalah sesat, akan sangat mudah menuai kritikan maupun dukungan. wong memang begitulah endonesa (jujur saja, kadang kita susah sekali mengatakan indonesia, bukan?).
jauh sebelum negara ini merdeka, nenek moyang kita sudah menganut kepercayaan. ada yang dikatakan animisme, dinamisme dan sebagainya. toh mereka dulu rukun. saat zaman terus berkembang, merdeka sudah kita raih, entah berapa banyak gesekan terjadi yang bersumber dari satu hal: apa yang dilakukan orang lain tak sama dengan yang kita lakukan. bukankah tuhan maha adil, kalau sudah percaya hal itu tentu sebagai manusia meyakini hakim paling hebat, yang tak mempan disogok segepok duit adalah tuhan semata.
sebab, aksi dan reaksi atas masalah yang menyangkut agama dan kepercayaan di negeri ini biasanya tak begitu saja padam. kalau mereka yang berada di pucuk pimpinannya punya dasar kuat, pasti meykinkan jawabannya saat debat, tak selalu demikian dengan warga yang hanya tahu sedikit lalu ikut bergerak.
aku sendiri selalu memilih untuk tidak terjebak dalam pemikiran: aku paling benar, paling baik, bahkan paling salah. karena aku manusia biasa. aku ingat pesan guru ngajiku waktu kecil, jadilah manusia yang bisa merasa. bisa merasa diri ini banyak kekurangan, bisa merasa manusia memang tak pernah puas akan apa yang telah diperolehnya, bisa merasa banyak orang lain yang lebih hebat, bisa merasa dunia adalah lembaran terjal yang harus dilalui dengan hati-hati agar tak terperosok dalam prasangka atau iri hati, bisa merasa bagaimana penderitaan orang lain akibat ulah kita, bisa merasa tak selalu apa yang kita anggap benar adalah benar di mata orang lain apalagi tuhan.
tidak terkurung dalam idiom merasa bisa. karena akan melahirkan pemikiran merasa bisa mempecundangi orang lain, merasa bisa lebih baik hanya dengan sekali berbuat, merasa bisa menjadi kawan baik, merasa bisa membantu orang lain dengan perbuatan yang didasarkan atas pemikiran pribadi atau kelompok, merasa bisa menjadi orang hebat dan merasa bisa yang lain...
tentu saja, kedatangan massa ke kejari memiliki landasan. dan akan semakin panjang daftar gesekan antarmanusia jika ada kelompok lain yang menandinginya. indonesia (benar ejaannya?) kan begitu. pihak a maju, pihak b tak terima. suatu waktu gantian maju. kalau ketemu di suatu waktu, bentrok! Read More..
sedangkan kita, begitu mudahnya menudingkan jari ke arah orang lain lalu mengatakan dia berbeda dengan kita. urusan agama, sampai kapan pun akan begitu mudah menyulut reaksi. kalau ada pengarang buku yang menulis aliran a, b, atau c adalah sesat, akan sangat mudah menuai kritikan maupun dukungan. wong memang begitulah endonesa (jujur saja, kadang kita susah sekali mengatakan indonesia, bukan?).
jauh sebelum negara ini merdeka, nenek moyang kita sudah menganut kepercayaan. ada yang dikatakan animisme, dinamisme dan sebagainya. toh mereka dulu rukun. saat zaman terus berkembang, merdeka sudah kita raih, entah berapa banyak gesekan terjadi yang bersumber dari satu hal: apa yang dilakukan orang lain tak sama dengan yang kita lakukan. bukankah tuhan maha adil, kalau sudah percaya hal itu tentu sebagai manusia meyakini hakim paling hebat, yang tak mempan disogok segepok duit adalah tuhan semata.
sebab, aksi dan reaksi atas masalah yang menyangkut agama dan kepercayaan di negeri ini biasanya tak begitu saja padam. kalau mereka yang berada di pucuk pimpinannya punya dasar kuat, pasti meykinkan jawabannya saat debat, tak selalu demikian dengan warga yang hanya tahu sedikit lalu ikut bergerak.
aku sendiri selalu memilih untuk tidak terjebak dalam pemikiran: aku paling benar, paling baik, bahkan paling salah. karena aku manusia biasa. aku ingat pesan guru ngajiku waktu kecil, jadilah manusia yang bisa merasa. bisa merasa diri ini banyak kekurangan, bisa merasa manusia memang tak pernah puas akan apa yang telah diperolehnya, bisa merasa banyak orang lain yang lebih hebat, bisa merasa dunia adalah lembaran terjal yang harus dilalui dengan hati-hati agar tak terperosok dalam prasangka atau iri hati, bisa merasa bagaimana penderitaan orang lain akibat ulah kita, bisa merasa tak selalu apa yang kita anggap benar adalah benar di mata orang lain apalagi tuhan.
tidak terkurung dalam idiom merasa bisa. karena akan melahirkan pemikiran merasa bisa mempecundangi orang lain, merasa bisa lebih baik hanya dengan sekali berbuat, merasa bisa menjadi kawan baik, merasa bisa membantu orang lain dengan perbuatan yang didasarkan atas pemikiran pribadi atau kelompok, merasa bisa menjadi orang hebat dan merasa bisa yang lain...
tentu saja, kedatangan massa ke kejari memiliki landasan. dan akan semakin panjang daftar gesekan antarmanusia jika ada kelompok lain yang menandinginya. indonesia (benar ejaannya?) kan begitu. pihak a maju, pihak b tak terima. suatu waktu gantian maju. kalau ketemu di suatu waktu, bentrok! Read More..
bukan putera daerah
sekelompok massa kemarin menolak pelantikan kepala dinas pekerjaan umum provinsi kepri yang baru. mereka mempertanyakan mengapa yang dipilih gubernur bukan putra daerah, melainkan orang dari jakarta. apakah memang tak ada lagi putera daerah yang mampu memangku jabatan tersebut?
jawaban pihak gubernuran: dipilihnya orang yang dekat dengan pemerintah pusat adalah untuk mempermudah lobi serta hubungan yang selama ini telah dilakukan kepala dinas pekerjaan umum sebelumnya.
kalau massa mempertanyakan pelantikan kadis pu baru, kepala bkd di lingkungan pemprov justru belum pernah bertatap muka dengan calon kadis pu baru tersebut. bahkan pejabat ini tak tahu nama lengkap calon kadis pu tadi.
massa tetap pada pendiriannya. prinsip mereka: percuma saja jika pejabat tidak didukung oleh masyarakat. demo, unjukrasa, penggalangan massa memang bukan hal baru sejak digulirkannya reformasi. aku jadi ingin sekadar membolak-balik kenangan akan reformasi, penguasa orde baru ditumbangkan. sayang mahasiswa hanya menumbangkan penguasa, bukan menyiapkan sistem baru. hasilnya, zaman reformasi keadaan bukan lebih baik. kalaupun ada indikator ke arah perbaikan, masih terlalu jauh dari angan-angan mahasiswa.
semoga pilihan orang-orang pintar atas kepala dinas pekerjaan umum yang baru sudah mempertimbangkan banyak hal. dan semoga massa tak terjebak pada primordialisme sempit. yang paling pas menurut aku: sebuah kebijakan publik membuat pemerintah lebih bergairah melayani masyarakat dan sebaliknya, masyarakat mendapatkan pejabat yang bisa diajak curhat, berbagi rasa untuk kemajuan daerah tempatnya ditugaskan. Read More..
jawaban pihak gubernuran: dipilihnya orang yang dekat dengan pemerintah pusat adalah untuk mempermudah lobi serta hubungan yang selama ini telah dilakukan kepala dinas pekerjaan umum sebelumnya.
kalau massa mempertanyakan pelantikan kadis pu baru, kepala bkd di lingkungan pemprov justru belum pernah bertatap muka dengan calon kadis pu baru tersebut. bahkan pejabat ini tak tahu nama lengkap calon kadis pu tadi.
massa tetap pada pendiriannya. prinsip mereka: percuma saja jika pejabat tidak didukung oleh masyarakat. demo, unjukrasa, penggalangan massa memang bukan hal baru sejak digulirkannya reformasi. aku jadi ingin sekadar membolak-balik kenangan akan reformasi, penguasa orde baru ditumbangkan. sayang mahasiswa hanya menumbangkan penguasa, bukan menyiapkan sistem baru. hasilnya, zaman reformasi keadaan bukan lebih baik. kalaupun ada indikator ke arah perbaikan, masih terlalu jauh dari angan-angan mahasiswa.
semoga pilihan orang-orang pintar atas kepala dinas pekerjaan umum yang baru sudah mempertimbangkan banyak hal. dan semoga massa tak terjebak pada primordialisme sempit. yang paling pas menurut aku: sebuah kebijakan publik membuat pemerintah lebih bergairah melayani masyarakat dan sebaliknya, masyarakat mendapatkan pejabat yang bisa diajak curhat, berbagi rasa untuk kemajuan daerah tempatnya ditugaskan. Read More..
Subscribe to:
Posts (Atom)
