Friday, March 27, 2009

sarjana penjual air tebu

seorang ayah bercerita kepada saya tentang anaknya. sang ayah bukannya orang kaya, dia berasal dari kampung pelosok di jawa timur. merantau ke berbagai daerah di indonesia sebelum akhirnya jatuh cinta kepada seorang perempuan di tanjungpinang. dengan kerja keras, orangtua ini menyekolahkan anaknya dari tk, sd, smp, sma hingga mampu kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di jakarta. kalau saya sebutkan pasti anda tahu. sudah jelas berapa banyak duit yang dikeluarkan untuk biaya kuliah si anak.

yang diharapkan orangtua kepada anaknya yang kuliah adalah lulus. dan si anak lulus, dengan nilai yang lumayan membanggakan tentunya. nasib baik, si anak diterima bekerja di batam. gelar sarjana ekonomi akuntansinya masih cukup mengundang minat perusahaan bonafid di batam untuk mempekerjakannya sebagai pegawai. mapan.

tiba-tiba saja ia banting stir. tentu saja keputusannya membuat bapak ibunya sempat terkejut. mengapa, ada apa, bagaimana nanti? wajar, siapa orangtua yang ingin anaknya hidup susah kelak? mau tahu pekerjaan apa yang dipilih sarjana akuntansi ini? berjualan air tebu. jangan remehkan tebu bung! sebatang tebu harganya seribu perak, ketika digiling bisa dijadikan dua botol. per botol harganya tujuh ribu perak. bisa juga dibeli per gelas, begitu digiling gelas ditaruh di bawah tempat keluarnya air tebu gilingan. mau tahu berapa batang tebu sarjana ekuntansi ini bisa menghabiskan tebu dalam sehari?

minimal 100 batang tebu.
Read More..

Monday, March 23, 2009

salam tempel

memasuki pintu gerbang kawasan wisata lagoi, kabupaten bintan, beberapa minggu lalu, kawan saya merogoh saku celananya. diambilnya rp20 ribu, kaca depan kanan dibukanya. seorang satpam berseragam menghormat sambil menyapa hendak kemana. sambil tersenyum, kawan menjulurkan tangannya dan rupiah itu pun berpindah.

ketika saya tanyakan, mengapa harus memberinya duit, teman saya yang bermata sipit menjawab daripada dipersulit urusannya. memang, kawan saya mengantarkan pesanan dari seorang petinggi hotel yang ada di areal wisata internasional ini. kalau dijelaskan oleh kawan saya siapa yang pesan, menurut saya akan diperbolehkan juga masuk. kecuali pesanannya bahan-bahan berbahaya. demikian juga dengan satpam yang menghadang, begitu mendapatkan salam tempel mobil yang kami tumpangi tak diperiksa. padahal siapa tahu saya menyembunyikan bom di bawah jok mobil, he he...

sepulangnya, saya tetap menyindir teman mengapa harus membiasakan diri dengan salam tempel tadi. kalau urusannya benar kan tak perlu pakai kebiasaan tersebut. bila dibudidayakan, satpam juga bisa menaruh harapan setiap kali ada tamu masuk. banyak sekali pemilik kepentingan di kawasan ini, termasuk pemasok barang-barang kebutuhan. mereka pastilah tak harus pakai pengawalan polisi, kadang juga bercelana pendek, berkaos sederhana. kalau sehari saja ada lima orang seperti teman saya, berapa duit di tangan satpam?

atau karena kawan saya bermata sipit? ia masih merasa menjadi warga nedara nomor sekian? gimana to, kan sekarang sudah tak ada lagi kelas dan kasta seperti itu. kalau obyeknya saja tetap merasa berbeda ya bagaimana orang lain mau menganggapnya sama. sampai sekarang, kalau teman saya masuk ke kawasan ini pasti saya sindir, sekadar mengingatkan untuk tidak membiasakan diri dengan salam tempel.
Read More..

Saturday, March 21, 2009

tiang listrik depan rumah

melepaskan dahaga, dari kijang siang itu aku mampir ke kedai milik bu ani yang terletak di km 18. depan jalan masuk ke smp negeri 3 kijang, kabupaten bintan. dari sekedar nanya dari mana, akhirnya ibu berusia paroh baya ini menunjuk tiang listrik di depan rumahnya.

bukannya pamer meski rumahnya sederhana tetapi lsitrik 24 jam nyala, melainkan mengeluh karena tiang listrik itu. usut punya usut, ternyata tiang itu sudah berdiri tahunan, tetapi rumah bu ani sendiri belum tersentuh jaringan listrik pln. untuk nonton teve, keluarganya menggunakan genset. akibatnya, ia kembali bercerita, "kulkas saya usianya cuma tiga bulan."

bukan hanya kepingin merasakan betapa nikmatnya berlangganan listrik pln, bu ani sampai ngiler, mungkin kebawa sampai mimpi. entah sudah berapa kali ia mengajukan diri sebagai pelanggan baru, ke kijang, ke tanjungpinang. nyatanya sampai kemarin ia balum juga bisa merasakan nama besar pln. bahkan ia berani membayar belasan juta bagi orang yang bisa mengusahakan aliran listrik pln ke rumahnya.

ada dua deretan tiang di depan rumah pedagang kecil ini. berseberangan jalan adalah tiang zaman dahulu, lebih kecil dan lebih pendek. yang terakhir yang berada persis di depan rumahnya.
Read More..

kuantitas perlu juga

agak kesal juga mencari-cari markas panwaslu kabupaten bintan tak juga ketemu. sudah lebih dari lima warga kutanya, jawabnya selalu menunjuk bangunan di seberang lampu merah barek motor. aku bilang itu kantor kpu, ada yang mengangguk-angguk lalu bilang ooo. ada yang sok ngeyel dan mengatakan kantor panwaslu juga di sana. padahal, aku baru saja dari kantor kpu. apakah memang kpu lebih populer dibandingkan panwaslu? entahlah.

putar-putar, ah, akhirnya ketemu juga ruko tiga lantai dengan papan nama panwaslu. pas hari jumat, sepi. lantai satu hanya ada dua motor terparkir di depan ruko, satunya di dalam. ada tas tergeletak di kursi, tetapi pemiliknya tak ada. di lantai dua, ada seorang pegawai. setelah dialog sedikit, dari mana, mau ketemu siapa dan sebegainya, aku disuruh ke lantai tiga.

di sini berjumpa ketua panwaslu zulfan dan kepala divisi monitoring dede. waktu sebenarnya tak banyak karena mendekati salat jumat, tetapi banyak yang aku dapatkan dari seorang zulfan, juga dede. rupanya kantor panwaslu sudah pindah tiga kali. dengan jumlah personil yang terbatas, mereka harus mengkover seluruh wilayah kabupaten bintan yang luasnya hmmm (silakan buka peta kabupaten bintan). ada salah satu kecematan namanya tambelan yang hanya bisa dijangkau lewat kapal yang berlayar empat atau lima hari sekali.

kalau zulfan dan kawan-kawannya harus ke sana, berarti 10 hari habis di perjalanan dan masa menunggu keberangkatan kapal. satu-satunya cara ialah memaksimalkan tugas para petugas lapangan yang ada di kecamatan dan kelurahan atau desa. tak cuma ini masalahnya, ternyata di kabupaten belum ada perda yang mengatur titik-titik jalan mana yang boleh dan tidak dipancangi alat peraga pemilu. nah, ketika panwaslu turun untuk melakukan peneguran, parpol bersangkutan bisa-bisa berang. yang dipakai hanya aturan umum tak boleh memasang atribut parpol di tempat ibadah, fasilitas umum, sekolah dan itu-itu lagi.

sebenarnya juga, kata zulfan, institusinya hanyalah pengawas. untuk turun seharusnya menjadi tugas kpu yang bisa saja mengajak satpol pp untuk melakukan penertiban atribut. ah sudahlah, aku tak mau menyeret-nyeretkan diri larut dalam persoalan tersebut. yang aku pikir cuma bagaimana orang-orang panwaslu mengawasi wilayah yang begitu luas. kalau di jawa, hanya dengan sarana bernama kendaraan bermotor semua wilayah jangkauan nyaris terkover semua. meski harus naik turun bukit, jalan becek tetapi tak butuh waktu berhari-hari.
Read More..

Saturday, February 28, 2009

kerja duluan bayar belakangan

seharusnya memang begitu. tetapi tidak menjadi seharusnya ketika pekerjaan sudah rampung tiga bulan lewat, bayarannya belakangan. itu pun belum semuanya terbayar. program nasional pemberdayaan masyarakat (pnpm) mandiri perdesaan yang harus ditinjau ulang di sini: pengerasan jalan dan pembuatan dwiker desa gunung kijang kecamatan gunung kijang kabupaten bintan, provinsi kepri.

dana yang dialokasikan untuk proyek ini 6o-an juta. yang tampak di lokasi, seharusnya dengan rp 30 juta sudah cukup. disebutkan pengerasan, nyatanya cuma ditambal pakai pasir campur tanah lalu dipadatkan. ratakah? tidak sama sekali, bahkan kalau permukaan jalannya sudah tampak rata ya tak ditutup lapisan baru. lumayan, ngirit material. terus pembuatan dwiker atau gorong-gorongnya? ada sih memang wujudnya.

orang yang ditugasi mencari pasir untuk pelapis jalan ngaku, dari 82 trip atau lori material yang dibawanya, hingga tulisan ini nongkrong di blog belum semuanya dibayar. bahkan ia mendapatkan bayaran yang berbeda untuk pasir jalan dan dwiker. keduanya memang ditangani dua orang berbeda.

setahu aku, pnpm itu program hebat. dulu hanya ditangani satu departemen, sekarang lintas departemen. satu kabupaten bisa mendapatkan alokasi dana miliaran rupiah, biasanya dipatung pusat dan pemerintah setempat. proyeknya juga seharusnya bagus. dimulai dari penggalian gagasan warga setempat. apa pun boleh diusulkan. namun yang disetujuai tentu saja proyek yang dianggap memiliki skala prioritas tertinggi. katakan di desa antah berantah ada usulan pembangunan kakus umum sama terminal, tentu pelaku pnpm akan mengegolkan proyek pertama. alasannya, biar warga tak nongkrong sembarangan di tepi jalan, bawah pohon pisang atau numpang di sekolah. kalau dibangun terminal, lha wong belum ada warga yang punya angkutan umum.

ya begitulah, beberapa warga setempat mengaku tak pernah diajak berunding soal pembangunan proyek tadi. akhirnya mereka menolak ketika diminta datang untuk serah terima proyek. tetapi pelaku pnpm setempat mengatakan, tidak semua warga tahu. begitulah indonesia...
Read More..