Sunday, February 15, 2009

tak selamanya sabar itu indah

siang itu terik. apalagi tubuhku dibalut jaket panjang, huh tambah gerah. di sebuah kedai di barek motor, kijang, kuluangkan sedikit waktu. menatap kesibukan pelabuhan rakyat, ada kebanggan tersendiri, dahulu orang-orang negeri ini dikenal dengan keberaniannya di tengah lautan. walau kapal kayu yang dinaiki, ombak besar tak ubahnya irama lagu.

kapal kayu masih tetap dibutuhkan. di belakangku, seorang lelaki tengah sibuk membuat rangka ruangan kapal lengkap dengan atapnya. yang membuatku ingin tahu, warna kayu yang dijadikan bahan jauh sekali berbeda. na ni nu, pokoknya begitulah, akhirnya keluar juga komentar dari mulut si bapak. agak ngeri juga sebenarnya, tengah sibuknya bekerja di panas terik, dengan peralatan tukang (tahu sendiri kan, ada kapak kecil, martil, paku hiiii), jangan-jangan ketika kutanya ia kaget dan salah mengetok sasaran.

tetapi tak ook. ia baik, bahkan cerita, semuanya itu gara-gara larangan penabangan kayu di hutan. oalah itu loh, pembalakan. sok pintar, aku mengimbangi kekesalannya. bahwa, hutan indonesia sudah teramat rusak. per jam saja terjadi pengrusakan seukuran beberapa luas lapangan bola (ketahuan tak hafal datanya, habis waktu itu nonton acara investigasi di televisi, sekarang televisinya sudah dijual. apa hubungannya ya?). padahal, cuma brazil dan indonesia yang menopang paru-paru dunia.

eit, sang bapak menjawab begini: begini mas, yang dilarang itu orang kaya yang punya duit, yang bisa nyuruh orang miskin nebangi pohon di hutan untuk dijual. duitnya buat memperkaya diri sendiri. kalau untuk dibuat perahu atau rumah penduduk, tentu habisnya tak banyak. lha kalau larangan dikenakan ke semua orang, ya lihat sendiri dinding papan rumah saya di (maaf aku tak sebutkan alamat si bapak, soalnya aku berharap suatu saat penebangan pohon dengan ketentuan berlaku akan diterapkan dan aku bisa pesan kayu sama si bapak. dasarrrrrrrr!) sudah perlu diganti. dulu nebang beberapa pohon, digergaji sendiri, dapat papan kayu yang bagus.

perahu ini juga pesanan orang, untuk perahu ikan. kalau jadi yang bekerja ya warga juga. kok kayunya susah didapatkan. hanya untuk menyelesaikan kamar dan atap ini saya nganggur tiga bulan. saya butuh makan, pemilik kapal ingin kapalnya cepat selesai, warga sekitar ingin bekerja sebagai anak buah kapal.

sungguh, si bapak bengong ketika aku yang justru diam-diam pamitan. menyeruput sisa teh obeng yang tinggal sedikit. bayar minuman, langsung ngacir. di jalan aku berpikir, untung sepeda motor bututku rangka utamanya bukan kayu. coba kayu, kalau lapuk susah nyari kayunya. baru motor saya, kalau motor anda, orangtua anda, saudara anda, sepupu anda, tetangga anda juga lapuk, butuh banyak kayu juga.

No comments:

Post a Comment