sungguh, aku kecewa melihat bukit-bukit di wacopek, bintan timur, gundul. sungguh, aku tak pernah menyangka dari atas bukit bukan keindahan yang kulihat. tetapi tangisan hutan. ratusan hektar hutan dibabat. maaf, aku tak bisa menceritakan bagaimana kehidupan satwanya saat rumahnya diporakporandakan manusia, mahluk yang konon paling bijaksana.
aku putar badanku 180 derajat, lalu 45 derajat, semua yang aku tatap sama. hutan gundul. hanya tanah merah memerah karena marah. mereka mengancam, tetapi sayang manusia tak menyadari ancamannya. yang penting hari itu bisa menggali bauksit, bisa beli beras. urusan cucu kita nanti, bodok amat. aku bayangkan, betapa rimbunnya tempatku berdiri sebelum alat berat merusaknya. pasti masih bisa kulihat monyet-monyet berwisata dari satu pohon ke pohon lainnya.
aku sadar, pemerintah butuh duit untuk membangun. dan hutan boleh juga dialihfungsikan. caranya itu yang tak bagus. sudah sifat pengusaha selalu ingin untung, begitu lahan a habis ditambang ia akan pindah ke lahan b yang sudah dibelinya dengan harga murah dari warga pemiliknya. tentu saja ia menambang lahan b tanpa koordinasi dengan dinas terkait untuk menyeseilan berbagai masalah, seperti dana kesejahteraan untuk warga sekitar, bagaimana pembuangan limbahnya, bagaimana hutan penggantinya dan sebagainya.
sudahlah, aku ingin turun. bosan menyaksikan puncak bukit yang gersang. sambil melaju dari kendaraan, aku sempat bernyanyi gundul-gundul pacul, gembelengan.... entah ada kaitannya atau tidak dengan gundulnya hutan. yang jelas sama-sama gundul dul dul......
Friday, February 6, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment