Saturday, January 31, 2009

sarapan pagi

suatu pagi, habis menikmati sepiring nasi pecel di warung, aku lanjutkan dengan menyusuri tepi laut. tak ada yang berbeda. kecuali seorang lelaki berseragam cokelat sibuk mengamati tepi laut. sesekali, ia turun atau kalau tak memungkinkan digunakan pengait untuk mengambil sesuatu.

perkiraanku, yang diambil sesuatu yang berharga. aku dekati. rupanya onggokan pisang busuk yang diangkatnya dari perairan. aku tak ingin bertanya, apakah ia orang pemerintahan atau warga biasa yang memang memiliki kepedulain luar biasa terhadap lingkungan. Tepi laut memang tempat favorit bagi warga tanjungpinang atau warga daerah lain yang berkunjung ke ibu kota provinsi kepri ini.

kata beberapa warga, itu pemandangan biasa. jika membuang pisang dianggap biasa, sebenarnya bagus. sayang, pisangnya sudah tak lagi pantas disebut pisang. kulitnya menghitam, isinya tentu saja aku tak mencoba membukanya. tak ada yang tahu, apakah itu hasil buangan orang dari kapal kayu pengangkut buah atau pedagang pasar. kalau satu atau dua biji pasti hilang ditelan ombak. ini masih lengkap dengan tandannya. sampai-sampai tong sampah yang ada di dekatnya tak akan muat jika dipakai menampungnya.

siapapun pembuang pisang ini, kalau disengaja, pasti orang yang tak mau tahu akibat perbuatannya itu. seandainya ia penikmat tepi laut, saat duduk santai menikmati angin tiba-tiba pandangannya tertuju ke benda yang terombang-ambing di perairan. he he he, pisang busuk.

No comments:

Post a Comment